Minggu, 22 April 2012

Perkembangan Emosi, Sosial, Kreativitas dan Moral pada Masa Sekolah



PERKEMBANGAN MASA SEKOLAH
DAN PERMASALAHANNYA
PERKEMBANGAN EMOSI, SOSIAL, KREATIVITAS DAN MORAL


Makalah Ini Disusun Guna Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Perkembangan Peserta Didik

Dosen Pembimbing : Itsna Iftayani, M. A.

  

Disusun Oleh :

1.            Anang Heri Susanto                         (102120074 / IV-C)
2.            Edwin Suhardi                                 (102120083 / IV-C)
3.            Izmi Barokatul Inayati                     (102120088 / IV-C)
4.            Kusnadi Abdillah                             (102120090 / IV-C)
5.            Rosialina Septiani                           (102120097 / IV-C)
6.            Widyanto Chandra Wibowo               (102120105 / IV-C)
7.            Yunita Putri Andhari                         (102120107 / IV-C)



PROGAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOREJO
2012


KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkat dan rahmat-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Perkembangan Masa Sekolah dan Permasalahannya (Perkembangan Emosi, Sosial, Kreativitas dan Moral)”.
Makalah ini disusun guna memenuhi salah satu tugas mata kuliah Perkembangan Peserta Didik yang diampu oleh Ibu Itsna Iftayani, M. A.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis telah banyak menerima bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Dengan kerendahan hati yang tulus, penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penulisan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, kritik dan saran yang bersifat membangun sangatlah penulis harapkan guna perbaikan  pada masa yang akan datang  dan menambah wawasan serta pengembangan ilmu.
Akhir kata penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
                                                                                                       Purworejo,   Maret  2012


Penulis




DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................... i
KATA PENGANTAR ............................................................................. ii
DAFTAR ISI ...................................................................................... iii
BAB I    PENDAHULUAN ...................................................................   1
A.          Latar Belakang Masalah .............................................  1
B.          Rumusan Masalah.....................................................   1
BAB II   PEMBAHASAN .....................................................................   2
          A.    Perkembangan Emosi  ....................................................   2
B.    Perkembangan Sosial......................................................   6
C.    Perkembangan Kreativitas...............................................   8
D.    Perkembangan Moral........................................................ 10
BAB III PENUTUP ...........................................................................  13
A.    Kesimpulan .................................................................   13
B.    Saran .........................................................................   14
DAFTAR PUSTAKA



BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Manusia lahir di dunia mengalami fase tumbuh dan berkembang. Fase ini bertahap mulai dari balita hingga dewasa. Dalam tahapan-tahapannya, manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan erat kaitannya dengan perkembangan. Perbedaannya, perkembangan melalui fase yang lebih kompleks.
Perkembangan menurut Libert, Paulus, dan Strauss (1990) yaitu proses perubahan dalam pertumbuhan pada suatu waktu sebagai fungsi kematangan dan interaksi dengan lingkungan. Istilah perkembangan lebih mencerminkan sifat-sifat yang khas mengenai gejala-gejala psikologis yang tampak.
Dewasa ini, anak tumbuh dan berkembang sesuai tuntutan zaman. Hal ini dapat berakibat pada perkembangan emosi, hubungan sosial, kreativitas dan moralnya. Khususnya pada anak masa usia sekolah yaitu masa remaja. Masa ini rentan terhadap berbagai pengaruh yang datang baik dari luar maupun diri anak itu sendiri. Pengaruh ini dapat memberikan manfaat positif maupun negatif. Oleh karena itu, untuk mengatasi permasalahan-permasalahan di atas, terlebih dahulu kita perlu memahami tentang pengertian, faktor-faktor yang berpengaruh dan karakteristik perkembangan remaja dalam berbagai aspek. Berikut ini akan dibahas lebih lanjut mengenai perkembangan emosi, hubungan sosial, kreativitas dan moral remaja.

B.       Rumusan Masalah
1.         Bagaimanakah perkembangan emosi remaja?
2.         Bagaimanakah perkembangan hubungan sosial remaja?
3.         Bagaimanakah perkembangan kreativitas remaja?
4.         Bagaimanakah perkembangan moral remaja?


BAB II
PEMBAHASAN

A. Perkembangan Emosi

Kehidupan anak (remaja) penuh dengan dorongan dan minat untuk mencapai atau memiliki sesuatu. Banyak-sedikitnya dorongan dan minat seseorang mendasari pengalaman emosionalnya. Berikut ini akan dibahas mengenai pengertian emosi, karakteristik dan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan emosi remaja.

1.         Pengertian Emosi
Emosi merupakan perpaduan dari beberapa perasaan yang mempunyai intensitas yang relatif tinggi, dan menimbulkan suatu gejolak dalam batin seseorang. Perilaku kita sehari-hari pada umumnya diwarnai oleh, perasaan-perasaan tertentu, seperti senang atau tidak senang, suka atau tidak suka, atau sedih dan gembira. Perasaan yang terlalu menyertai perbuatan-perbuatan kita sehari-hari disebut sebagai warna efektif. Warna efektif ini kadang-kadang kuat, kadang-kadang lemah, atau kadang-kadang tidak jelas. Apabila warna efektif tersebut kuat, perasaan seperti itu dinamakan emosi (Sarlito, 1982:59). Beberapa contoh emosi yang lainnya adalah gembira, cinta, marah, takut, cemas, malu, kecewa, benci.
Emosi dan perasaan adalah dua konsep yang berbeda, tetapi perbedaan keduanya tidak dapat dinyatakan secara tegas. Emosi dan perasaan merupakan gejala emosional yang secara kualitatif berkelanjutan, tetapi tidak jelas batasnya. Pada suatu saat, warna afektif dapat dikatakan sebagai perasaan, tetapi dapat pula disebut sebagai emosi. Karena emosi dan perasaan tidak mudah untuk dibedakan. Pada saat emosi, sering terjadi perubahan-perubahan pada fisik seseorang, seperti :
a. Reaksi, elektris pada kulit meningkat bila terpesona.
b. Peredaran darah bertambah cepat bila marah
c. Denyut jantung bertambah cepat bila terkejut 
d. Bernafas panjang kalau kecewa
e. Pupil mata membesar bila marah.
f.  Air liur mengering bila takut atau tegang.
g.  Bulu roma berdiri kalau takut.

2.  Karakteristik Emosi
Berikut ini akan diuraikan beberapa kondisi emosional pada remaja, seperti :
a.  Cinta atau kasih sayang
Ciri yang menonjol dalam kehidupan remaja adalah adanya perasaan untuk mencintai dan dicintai orang lain. Kapasitas untuk memberi sama pentingnya dengan kemampuan untuk menerima rasa cinta.
b.  Perasaan gembira
Rasa gembira muncul apabila segala sesuatunya berlangsung dengan baik dan menyenangkan. Remaja akan mengalami kegembiraan jika ia diterima sebagai seorang sahabat atau bila cintanya diterima oleh yang dicintai. Perasaan gembira inilah yang mendorong mereka menjadi giat dan bersemangat dalam kehidupannya.
c.   Kemarahan dan pernusuhan
Rasa marah dan permusuhan merupakan gejala emosional yang penting diantara emosi-emosi yang memainkan peranan menonjol dalam perkembangan kepribadian remaja. Banyaknya hambatan yang menyebabkan kehilangan kendali terhadap rasa marah, berpengaruh terhadap kehidupan emosional remaja. Rasa marah ini akan terus berlanjut jika keinginan, harapan, minat, dan rencananya tidak dapat terpenuhi.
d.  Ketakutan dan kecemburuan
Masa remaja telah mengalami serangkaian perkembangan panjang yang mempengaruhi pasang surut rasa ketakutannya. Banyak ketakutan baru yang muncul karena adanya kecemasan-kecemasan sejalan dengan perkembangan remaja itu sendiri. Remaja umumnya merasa takut hanya pada kejadian-kejadian yang berbahaya atau traumatik.

3.  Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Emosi
Sejumlah penelitian tentang emosi menunjukkan bahwa perkembangan emosi remaja sangat dipengaruhi oleh faktor kematangan dan faktor belajar (Hurlock, 1960:266). Kematangan dan belajar terjalin erat satu sama lain dalam memengaruhi perkembangan emosi. Metode belajar yang menunjang perkembangan emosi antara lain sebagai berikut:
a.  Belajar dengan coba-coba
Anak belajar dengan coba-coba untuk mengekspresikan emosinya dalam bentuk perilaku yang memberikan pemuasan sedikit atau sama sekali tidak memberikan kepuasan. Cara belajar ini lebih umum digunakan pada masa remaja awal dibanding masa sesudahnya.
b.  Belajar dengan cara meniru
Dengan cara meniru dan mengamati hal-hal yang membangkitkan emosi orang lain, remaja bereaksi dengan emosi dan metode ekspresi yang sama dengan orang-orang yang diamati. Remaja yang suka ribut atau merasa populer di kalangan teman-temannya biasanya akan marah bila mendapat teguran gurunya.
c.   Belajar dengan cara mempersamakan diri
Anak menirukan reaksi emosional orang lain yang tergugah oleh rangsangan yang sama dengan rangsangan yang telah membangkitkan emosi orang yang ditiru. Anak hanya menirukan orang yang dikagumi dan mempunyai ikatan emosional yang kuat dengannya.
d.  Belajar melalui pengondisian
Pengondisian terjadi dengan mudah dan cepat pada tahun-tahun awal kehidupan karena anak kecil kurang mampu menalar, mengenal betapa tidak rasionalnya reaksi mereka. Setelah melewati masa kanak-kanak, penggunaan metode pengondisian semakin terbatas pada perkembangan rasa suka dan tidak suka.
e.  Belajar di bawah bimbingan dan pengawasan
Banyak kondisi sehubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan remaja dalam hubungannya dengan orang lain yang membawa perubahan-perubahan untuk menyatakan emosi-emosinya. Orang tua dan guru hendaknya menyadari perubahan ekspresi ini karena tidak berarti  emosi tidak lagi berperan dalam kehidupan mereka. Ia tetap membutuhkan perangsang-perangsang yang memadai untuk pengembangan pengalaman-pengalaman emosionalnya.

Goleman (1995) mengungkapkan lima wilayah kecerdasan emosional yang dapat menjadi pedoman bagi individu untuk mencapai kesuksesan dalam kehidupan sehari-hari.

1.  Mengenali emosi sendiri
Kesadaran diri dalam mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi merupakan dasar kecerdasan emosional. Pada tahap ini diperlukan adanya pemantauan perasaan dari waktu ke waktu agar timbul wawasan psikologi dan pemahaman tentang diri.

2.  Mengelola emosi
Mengelola emosi berari menangani perasaan agar terungkap dengan tepat. Hal ini merupakan kecakapan yang sangat bergantung pada kesadaran diri. Emosi dapat dikatakan berhasil dikelola apabila mampu menghibur diri ketika ditimpa kesedihan, dapat melepas kecemasan, kemurungan atau ketersinggungan dan bangkit kembali dengan cepat.

3.  Memotivasi diri
Dengan kemampuan memotivasi diri, seseorang cenderung memiliki pandangan yang positif dalam menilai segala sesuatu yang terjadi dalam dirinya.

4.  Mengenali emosi orang lain
Empati atau mengenal emosi orang lain dibangun berdasarkan kesadaran diri. Jika seseorang terbuka pada emosi sendiri, ia akan trampil membaca perasaan orang lain.

5.  Membina hubungan dengan orang lain
Seni dalam membina hubungan dengan orang lain merupakan ketrampilan sosial yang mendukung keberhasilan dalam pergaulan dengan orang lain. Tanpa memiliki ketrampilan, seseorang akan mengalami kesulitan dalam pergaulan sosial dan dapat menyebabkan seseorang seringkali dianggap angkuh, menganggu, atau tidak berperasaan.

B.       Perkembangan Sosial
Manusia sebagai makhluk sosial senantiasa berhubungan dengan manusia lainnya. Mereka saling membutuhkan satu sama lain dalam kehidupan sosialnya. Berikut ini akan dibahas mengenai pengertian hubungan sosial, karakteristik dan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan hubungan sosial remaja.

1.  Pengertian Hubungan Sosial
Sosialisasi pada dasarnya merupakan proses penyesuaian diri terhadap kehidupan sosial. Menurut Piaget, interaksi sosial anak terbatas hanya dengan ibu dan ayahnya. Menginjak masa remaja, ia mampu berinteraksi sosial dengan teman sebaya terutama lawan jenisnya. Pada akhirnya pergaulan sesama manusia menjadi suatu kebutuhan dalam kehidupannya.
Dengan demikian, jelaslah bahwa hubungan sosial merupakan hubungan antar manusia yang saling membutuhkan. Hubungan sosial dimulai dari tingkat yang sederhana dan terbatas sampai pada tingkat yang luas dan kompleks. Remaja yang bertambah dewasa tidak hanya memerlukan orang lain untuk memenuhi kebutuhan pribadinya, tetapi juga untuk berpartisipasi dan berkontribusi memajukan kehidupan masyarakatnya.

2.  Karakteristik Perkembangan Sosial Remaja
Perkembangan sosial remaja ditandai dengan menonjolnya fungsi intelektual dan emosional. Dalam hal ini terjadi krisis identitas diri, yaitu kepercayaan diri remaja terhadap penilaian orang lain tentang keberadaan dirinya. Remaja mulai membentuk kelompok-kelompok kecil maupun besar. Hal ini mengakibatkan terjadinya persaingan yang ketat karena masing-masing individu ingin terlihat menonjol. Remaja dalam mempertahankan dirinya cenderung mengutamakan solidaritas teman tanpa mempedulikan objektivitas kebenarannya.
Dalam proses penyesuaian diri, kemampuan intelektual dan emosional mempunyai pengaruh yang kuat. Saling pengertian kekurangan dan kelebihan masing-masing dan upaya menahan sikap menonjolkan diri atau dominasi terhadap pasangannya, memerlukan tindakan intelektual yang tepat dan kemampuan mengendalikan emosional.

3.  Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Sosial Remaja
Perkembangan sosial remaja dipengaruhi oleh banyak faktor, yaitu keluarga, status sosial ekonomi, tingkat pendidikan, dan kemampuan mental.
a.  Faktor keluarga
Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama yang memberikan banyak pengaruh terhadap berbagai aspek perkembangan sosial anak. Keluarga merupakan media sosialisasi yang paling efektif bagi anak.
b.  Kematangan
Proses sosialisasi memerlukan kematangan fisik dan psikis. Untuk memberi dan menerima pandangan atau pendapat orang lain diperlukan kematangan intelektual dan emosional.
c.  Status sosial ekonomi
Kehidupan sosial dipengaruhi oleh kondisi atau status sosial ekonomi keluarga. Masyarakat akan memandang seorang anak dalam konteksnya yang utuh dengan keluarga anak itu. Di lain pihak, anak akan memperlihatkan sebagaiman yang telah ditanamkan dalam keluarganya.
d.  Pendidikan
Pendidikan merupakan media sosialisasi yang terarah bagi anak. Pendidikan moral diajarkan secara terprogram dengan tujuan untuk membentuk kepribadian anak agar mereka memiliki tanggung jawab sosial dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
e.  Kapasitas mental : emosi dan intelegensi
Kapasitas emosi dan kemampuan berpikir mempengaruhi banyak hal, seperti kemampuan belajar, memecahkan masalah, berbahasa, dan menyesuaikan diri terhadap kehidupan bermasyarakat. Perkembangan emosi dan intelegensi berpengaruh terhadap perkembangan sosial anak.

C.      Perkembangan Kreativitas
Dalam era globalisasi sekarang ini, kemajuan teknologi dan komunikasi berkembang semakin pesat. Globalisasi menuntut remaja untuk mampu beradaptasi dan berpikir secara kreatif serta piawai mencari pemecahan masalah yang disebabkan oleh adanya globalisasi secara imajinatif dan inovatif serta kreatif. Berikut ini akan dibahas mengenai pengertian kreativitas, karakteristik dan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan kreativitas remaja.

1.         Pengertian Kreativitas
Kreativitas dapat diartikan sebagai potensi yang terpendam yang berupa ide-ide baru atau hasil penyempurnaan yang muncul dari hasil imajinasi yang kemudian diberi sentuhan teknologi menjadi inovasi atau terobosan baru dalam memecahkan masalah. Imajinasi yaitu kemampuan dalam menciptakan gagasan atau gambaran mental dalam pikiran kita (visualisasi kreatif) untuk menciptakan citra yang jelas tentang sesuatu yang diinginkan tercapai.
Istilah kreatif dalam pandangan Islam, dapat diterjemahkan menjadi proses “ijtihad” yaitu mengeluarkan seluruh kemampuan berpikir dalam memecahkan masalah apabila tidak ditemukan jawabannya pada konteks hukum yang ada (Al-Qur’an dan Hadis).

2.   Karakteristik Perkembangan Kreativitas Remaja
Seseorang yang kreatif akan berhasil mencapai gagasan mengenai pemecahan masalah, produk baru, metode baru dan sebagainya sesudah melalui empat tahap, yaitu :
a.  Tahap Persiapan
Dalam tahap ini ada dua faktor penting yaitu minat (interest) dan konsentrasi (concentration).
b.  Tahap Inkubasi
Selama masa inkubasi, tanpa disadari otak terus bekerja mencari solusi masalah yang sedang terjadi. Tubuh manusia memerlukan waktu istirahat untuk menyegarkan dirinya kembali. Ketika beristirahat inilah terjadi sintesis berbagai informasi yang sudah terkumpul.
c.   Tahap Iluminasi
Tahap ini merupakan tahap datangnya gagasan.
d.  Tahap Verifikasi
Tahap verifikasi yaitu tahap dimana pola berpikir analitis berperan untuk menguji manfaat hasil temuan yang diperoleh melalui proses kreativitas.

3.   Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Kreativitas Remaja
Perkembangan kreativitas remaja dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal.
a.  Faktor Internal
Faktor yang mempengaruhi yaitu dari dalam diri sendiri. Kreativitas bergantung pada keterampilan dalam bidang dan berpikir kreatif, serta motivasi intrinsik untuk bertindak kreatif.
b.  Faktor Eksternal
Faktor lingkungan sosial dan psikologis berpengaruh terhadap perkembangan kreativitas remaja. Lingkungan sosial  atau budaya yang mendukung secara kondusif akan terjadinya sebuah kreativitas.

D.      Perkembangan Moral
Berikut ini akan dibahas mengenai pengertian moral, karakteristik dan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan moral remaja.

1.   Pengertian Moral
Moral merupakan ajaran tentang baik buruk suatu perbuatan dan kelakuan, akhlak, kewajiban, dan sebagainya (Purwadarminto, 1950:957). Dalam moral diatur segala perbuatan yang dinilai tidak baik dan perlu dihindari. Moral berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk membedakan antara perbuatan yang benar dan yang salah. Dengan demikian, moral juga mendasari dan mengendalikan seseorang dalam bersikap dan bertingkah laku.

2.   Karakteristik Perkembangan Moral Remaja
Salah satu tugas perkembangan yang harus dilakukan remaja adalah mempelajari apa yang diharapkan oleh kelompok dari masyarakatnya. Remaja diharapkan mengganti konsep-konsep  moral yang berlaku umum dan merumuskannya ke dalam kode moral yang akan berfungsi sebagai pedoman perilakunnya. Micheal mengemukakan empat perubahan dasar dalam moral yang harus dilakukan oleh remaja, yaitu sebagai berikut:
a. Pandangan moral individu makin lama menjadi lebih abstrak.
b. Keyakinan moral lebih berpusat pada apa yang benar dan kurang pada apa yang salah.
c. Penilaian moral yang semakin kognitif mendorong remaja untuk berani mengambil keputusan terhadap berbagai masalah moral yang dihadapinya.
d. Penilaian moral secara psikologis menjadi lebih mahal dalam arti bahwa penilaian moral menimbulkan ketegangan emosi.
Berdasarkan penelitian empiris yang dilakukan Kohlberg pada tahun 1958, sekaligus menjadi disertasi doktornya dengan judul The Developmental of Model Think and Choice in the Years 10 to 16, seperti tertuang dalam buku Tahap-tahap Perkembangan Moral (1995), tahap-tahap perkembangan moral dapat dibagi sebagai berikut :
a.  Tingkat Prakonvensional
Pada tingkat ini, anak tanggap terhadap aturan-aturan budaya dan terhadap ungkapan-ungkapan budaya mengenai baik dan buruk, benar dan salah. Tingkatan ini dapat dibagi menjadi dua tahap:
1)        Tahap orientasi hukuman dan kepatuhan
Anak semata-mata menghindarkan hukuman dan tunduk pada kekuasaan tanpa mempersoalkanya.
2)        Tahap orientasi relativis-instrumental
Perbuatan yang benar adalah cara atau alat untuk memuaskan kebutuhannya sendiri dan kadang-kadang juga kebutuhan orang lain. Hubungan antar manusia dipandang seperti hubungan di pasar (jual-beli). Terdapat elemen kewajaran tindakan yang bersifat resiproksitas (timbal-balik) dan pembagian sama rata, tetapi ditafsirkan secara fisik dan pragmatis.
b.  Tingkat Konvensional
Pada tingkat ini, anak hanya menuruti harapan keluarga, kelompok atau bangsa. Ia memandang bahwa hal tersebut bernilai bagi dirinya sendiri, tanpa mengindahkan akibat yang segera dan nyata. Tingkatan ini memiliki dua tahap yaitu:
1)        Tahap orientasi kesepakatan antarpribadi atau orientasi
Pada tahap ini terdapat banyak konformitas terhadap gambaran stereotif mengenai perilaku mayoritas.
2)        Tahap orientasi hukuman dan ketertiban
Terdapat orientasi terhadap otoritas, aturan yang tetap dan penjagaan tata tertib atau norma-norma sosial. Perilaku yang baik adalah semata-mata melakukan kewajiban sendiri, menghormati otoritas dan menjaga tata tertib sosial yang ada.
c.  Tingkat Pasca-konvensional (otonom atau berlandaskan prinsip)
Pada tingkat ini terdapat usaha yang jelas untuk merumuskan, nilai-nilai dan prinsip moral yang memiliki keabsahan dan dapat diterapkan, terlepas dari otoritas kelompok atau orang yang berpegang pada prinsip-prinsip itu dan terlepas pula dari identifikasi individu sendiri dengan kelompok tersebut. Ada dua tahap pada tingkat ini, yaitu:
1)  Tahap orientasi kontrak sosial legalitas
Tahap ini sangat bernada semangat utilitarian. Perbuatan yang baik cenderung dirumuskan dalam kerangka hak dan ukuran individual umum yang telah diuji secara kritis dan telah disepakati oleh seluruh masyarakat.
2)  Tahap orientasi prinsip etika universal
Hak ditentukan oleh keputusan suara batin, sesuai dengan prinsip-prinsip etis yang dipilih sendiri dan yang mengacu pada komprehensivitas logis, universalitas, konsistensi logis. Prinsip ini bersifat abstrak dan etis.

3.  Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Moral
Berikut ini faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan moral remaja antara lain :
a.  Lingkungan keluarga
Pada tahap ini pembentukan moral anak dipengaruhi oleh peran orang tua. Anak yang tidak memiliki hubungan yang harmonis dengan orang tuanya pada masa kecil cenderung untuk melakukan perbuatan yang melanggar norma sosial.
b.  Lingkungan sosial
Masyarakat memiliki peran penting dalam pembentukan moral. Tingkah laku yang terkendali disebabkan oleh adanya kontrol dari masyarakat itu sendiri yang mempunyai sanksi-sanksi sendiri untuk pelanggar norma sosial.

BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan
Emosi merupakan perpaduan dari beberapa perasaan yang mempunyai intensitas yang relatif tinggi, dan menimbulkan suatu gejolak dalam batin seseorang. Perkembangan emosi remaja ditandai dengan timbulnya rasa cinta atau kasih sayang, perasaan gembira, kemarahan dan permusuhan, ketakutan dan kecemburuan. Sejumlah penelitian tentang emosi menunjukkan bahwa perkembangan emosi remaja sangat dipengaruhi oleh faktor kematangan dan faktor belajar (Hurlock, 1960:266).
Sosialisasi pada dasarnya merupakan proses penyesuaian diri terhadap kehidupan sosial. Perkembangan sosial remaja ditandai dengan menonjolnya fungsi intelektual dan emosional. Dalam hal ini terjadi krisis identitas diri. Perkembangan sosial remaja dipengaruhi oleh banyak faktor, yaitu keluarga, status sosial ekonomi, tingkat pendidikan, dan kemampuan mental.
Kreativitas dapat diartikan sebagai potensi yang terpendam yang berupa ide-ide baru atau hasil penyempurnaan yang muncul dari hasil imajinasi yang kemudian diberi sentuhan teknologi menjadi inovasi atau terobosan baru dalam memecahkan masalah. Kreativitas ditandai oleh (1) Tahap Persiapan, (2) Inkubasi, (3) Iluminasi dan (4) Tahap Verifikasi. Perkembangan kreativitas remaja dipengaruhi oleh faktor internal yaitu dari diri sendiri dan faktor eksternal yaitu lingkungan sosial yang kondusif.

B.      
Saran

          Moral merupakan ajaran tentang baik buruk suatu perbuatan dan kelakuan, akhlak, kewajiban, dan sebagainya (Purwadarminto, 1950:957). Micheal mengemukakan empat perubahan dasar dalam moral yang harus dilakukan oleh remaja, yaitu sebagai berikut: (1) Pandangan moral individu makin lama menjadi lebih abstrak, (2) Keyakinan moral lebih berpusat pada apa yang benar dan kurang, (3) Penilaian moral yang semakin kognitif, dan (4) Penilaian moral secara psikologis menjadi lebih mahal. Pada tahap ini pembentukan moral anak dipengaruhi oleh peran  keluarga (hubungan orang tua dan anak) dan masyarakat.

1. Bagi remaja hendaknya memegang teguh prinsip kebenaran dalam perkembangan emosi, sosial, kreativitas dan moralnya sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.
2.  Bagi orang tua dan pendidik sebaiknya memberikan pengarahan terhadap remaja dalam perkembangannya dengan fleksibel namun tegas dan terarah.
3.  Bagi masyarakat sebaiknya memberlakukan norma-norma yang sudah ada sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
4.  Bagi pemerintah hendaknya memberikan dukungan dalam berbagai aspek terhadap perkembangan remaja Indonesia dan permasalahan-permasalahannya agar dapat menjadi generasi penerus bangsa yang mampu bersaing secara nasional maupun internasional.

DAFTAR PUSTAKA
Enung, Fatimah. 2006. Psikologi Perkembangan (Perkembangan Peserta Didik). Bandung : CV. Pustaka Setia.

Veitzhal, Rivai. 2009. Education Management (Analisis Teori dan Praktik). Jakarta : Rajawali Pers.

0 komentar:

Poskan Komentar